Jawa Pos, Kamis 18 Juli 2013

Sektor Properti Masih Seksi

Belum Terdapat Indikasi Bubble

 

Jakarta – Besarnya pangsa pasar menengah ke atas terus mengerek tingginya permintaan maupun harga dari sektor properti. Konsultan properti internasional yang berbasis di Amerika Serikat Jones Lang Las-Salle mencatat adanya kenaikan permintaan dan harga sepanjang semester pertama tahun ini. Perningkatan tersebut terjadi di segmen komersial maupun resindesial.

          Head of Research Jones LangLaSalle Anton Sitorus mengemukakan, di sektor perkantoran komersial, penyerapan ruang kantor di kawasan central business district (CBD) selama kuartal kedua 2013 menapai 93.400 meter persegi.

          Sedangkan penyerapan perkantoran komersial hinggal akhir paro pertama tahun ini mencapai 213.400 meter persegi. Itu merupakan total penyerapan dari total existing supply  atau pasokan yang telah ada sebesar 4,7 juta meter persegi.

“Capaian tersebut naik 35 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY),” paparnya di kantornya kemarin(17/7).

          Tidak pelak, penyerapaan yang tinggi itu mendorong kenaikan harga sewa properti perkantoran dalam satu semester secara bervariasi, yakni 14-23 persen. Dengan tingkat hunian sebesar 92 persen, harga sewa ruang kantor dikawasan CBD kurang lebih Rp 228.100 per meter persegi.

          Tren peningkatan harga sewa itu juga direspons oleh perkantoran di luar CBD, yakni mencapai 8-20 persen sejak awal tahun. Dengan existing supply mencapai 1,7 juta meter persegi, harga sewa pasar perkantoran di luar CBD mencapai Rp 146 ribu per meter persegi.

          “Penyerapan ruang kantor di luar CBD sudah mencapai 34.800 meter persegi per kuartal satu dan sebanyak 81.400 meter persegi pada semester pertama. Tingkat hunianpun naik menjadi 93 persen,” terang Project Leasing Jones Lang LaSalle Angela Wibawa.

          Bagaimanaa performa sektor resindensial?Head of  Residential Jones Lang LaSalle Luke Rowe memaparkan, penjualan sektor kondominium strata di pasar primer di Jakarta pada kuartal kedua memiliki posisi yang hampir sama dengan periode triwulan pertama, yakni sekitar 4.280 unit. Sepanjang semester pertama tahun ini harga kondominium di Jakarta pun ikut naik di kisaran 11-17 persen. “Permintaan end-user terhadap hunian vertikal di dalam kota meningkat. Apalagi, saat ini Jakarta merupakan wilayah bertaraf  internasional,” terangnya.

          Rowe menjelaskan, selama kuartal kedua para pengembang telah meluncurkan proyek 4ribu unit kondominium strata. Sedangkan total proyek yang dibangun saat ini lebih dari 37.800 unit dengan catatan 70 persen telah terserap oleh pasar.

“Kami memproyeksikan peluncuran proyek kondominium baru terus berlangsung dalam beberapa triwulan ke depan. Namun, ini cenderung melambat pada periode pemilu tahun depan,” katanya.

          Di sisi lain, Country Head Jones Lang LaSalle Todd Lauchlan mengatakan, perkembangan positif sektor properti di Indonesia masih akan berlanjut. Bahkan perkembangan tidak akan hanya dinikmati oleh pasar Jakarta, namun juga sejumlah kota besar di tanah air. “Pasar properti Indoensia masih relatif aman dari dampak kemungkinan crash atau bubble. Situasi sekarang berbeda jauh jika dibandingkan dengan 1997-1998”, terangnya.

          Lauchlan menilai, kondisi di Indoensia saat ini belum mengindikasikan dua aspek bubble real estate. Yakni, kenaikan harga yang sangat tidak masuk akal dan kredit macet properti. Tidak hanya itu, kendati mengalami pertumbuhan, perkembangan properti di Indonesia masih terjaga. Pada 2012, rasio kredit properti terhadap total pangsa pinjaman relatif rendah, yakni 13,6 persen, jika dibandingkan dengan 1995 dan 1997 yang menembus 20 persen dan 17 persen.

          Jika dibandingkan dengan PDB, rasio kredit properti di Indonesia juga masih rendah sebesar 4,5 persen. Padahal, rasio kredit properti Malaysia mencapai 31 perseen dan Hongkong 42 persen. (gal/c4/sof)